Sabtu, 21 Mei 2016

SURAT UNDANGAN PEMBENTUKAN MGMP

Berikut ini kami lampirkan surat undangan Pembentukan MGMP Bahasa Indonesia Tingkat SMA/SMA Samarinda, Silakan diunduh.

LAMBANG MGMP BAHASA INDONESIA SMA/MA

Lambang MGMP Bina
Arti Lambang MGMP Bahasa Indonesia SMA/MA Kota Samarinda:
a. Tulisan MUSYARAWAH GURU MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA SMA-MA  melambangkan nama organisasi profesi guru bahasa Indonesia pada tingkat SMA-MA
b. Tulisan MGMP SMA-MA melambangkan singkatan dari Musyawarah Guru Mata Pelajaran pada tingkat sekolah menengah atas dan madrasah aliyah.
c. Tulisan SAMARINDA-KALIMANTAN TIMUR melambangkan kedudukan dan wilayah organisasi.
d. Gambar Buku terbuka dan pena  melambangkan bahwa guru bahasa Indonesia wajib untuk menguasai teknologi dan berinovasi dalam kegiatan belajar mengajar di kelas, serta mengembangkan diri untuk menjadi insan pendidik yang berkualitas.
e. Gambar bintang berjumlah tiga pada setiap sudut melambangkan MGMP bahasa Indonesia dapat mengamalkan dan mengembangkan ilmu, serta berpartisipasi aktif pada setiap perubahan.
f. Bentuk segitiga melambangkan tujuan organisasi yang mengarahkan guru untuk melakukan proses pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat melalui organisasi profesi.
g. Bentuk lingkaran melambangkan MGMP Bahasa Indonesia SMA/MA Kota Samarinda ingin menjadi organisasi yang dinamis bergerak, memiliki kecepatan, sesuatu yang berulang, tidak terputus dalam regenerasi serta dapat diandalkan sebagai agen perubahan.
h. Warna Biru muda melambangkan
i. Warna Merah melambangkan keberanian untuk melakukan inovasi dan pengembangan pembelajaran bahasa Indonesia sebagai wujud aktualisasi dan pengembangan ilmu pengetahuan.
j. Warna Putih melambangkan ketululusan dan keikhlasan para guru dalam mendidik dan memberikan ilmu pengetahuan kepada peserta didik.
k. Warna Emas melambangkan pengabdian sebagai bentuk pengamalan ilmu pengetahuan sehingga terwujud nilai-nilai spritual dalam proses pendidikan.
l. Warna Hitam melambangkan kenetralan yang menjadi tolak ukur sehingga tidak dicampuri oleh kepentingan dari pihak manapun.

GURUKU SAYANG, GURUKU MALANG

Guruku Sayang, Guruku Malang
Agama Mengajarkan bahwa tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat, dan guru berada di dalamnya untuk mengajarkan ilmu. Guru merupakan sebuah profesi mulia, dan sudah selayaknya posisi ini tetap berada di tempatnya.

Tapi kini mulai banyak guru yang merasa berada pada kondisi nyaman. Sudah lulus sertifikasi, masuk tepat waktu, mengerjakan tugas sebagai seorang guru, kemudian pulang ke rumah, bercengkrama dengan keluarga, dan besok menjalani rutinitas yang tidak jauh berbeda. Namun tidak bisa dipungkiri juga, masih ada guru yang harus menjalani aktivitas ekstra untuk memenuhi kebutuhan hidupnya selain mengajar.

Banyak juga guru yang merasa miris melihat kondisi para siswa saat ini. Namun guru merasakan dilema karena mereka dikejar untuk menyelesaikan materi pembelajaran yang harus diajarkan dengan sarana dan prasarana terbatas, bahkan tidak memadai.

Guru pun perlu berhati-hati, jangan sampai ikut-ikutan menjadi korban liberalisme seperti para siswanya. Mungkin muridnya melakukan kegiatan “bebas” dalam pergaulan berupa pacaran dan sejenisnya. Maka diharapkan hal yang sama tidak terjadi pada guru yang merupakan teladan murid. Sudah cukup banyak berita yang tidak mendidik, seperti guru yang telah memiliki pasangan resmi tapi diam-diam memiliki PIL / WIL, atau guru berperilaku amoral terhadap siswa-siswinya.

Guru perlu mengevaluasi niat awal menjadi guru, bahwa semua dilakukan karena Allah SWT. Hal ini penting karena akan membedakan bagaimana cara dalam menjalankan peran sebagai seorang guru. Perlu kita ingat bersama, bahwa sebuah perbuatan yang baik, jika tidak dilandasi keimanan dan keikhlasan karena Allah SWT, maka semua akan sia-sia. Bagai kertas yang dibakar yang tak menyisakan apapun. Keadaan kesejahteraan kita (rezeki) memang sudah ada yang mengatur meskipun kita diminta berikhtiar lalu bertawakkal pada Allah SWT.

Terlepas dari keadaan itu semua, baik kita yang merasa sudah nyaman maupun belum dalam hidup, kita memiliki salah satu kewajiban yang sama wajibnya dengan kewajiban yang lain saat ini yaitu kewajiban untuk berdakwah (menebarkan kebaikan dan memahamkan Islam). Hal ini bisa kita manfaatkan pada profesi kita sebagai seorang guru. [Amin Yusuf]

GURU TAAT SYARIAT, GURU DAMBAAN UMAT

Training Rohis
Suatu bangsa yang ingin keluar dari keterpurukan dan menjadi bangsa besar, sangat membutuhkan guru dambaan umat, yaitu guru yang berkualitas tinggi, karena guru yang berkualitas juga sangat mempengaruhi kualitas generasi yang akan datang. Sementara generasi hasil didikannya akan memegang estafet kepemimpinan. Jika tidak ada guru yang berkualitas maka tidak akan terbentuk kualitas anak didik yang baik. Kompetensi guru yang berkualitas adalah sebagai berikut.

Pertama, Memahami Pentingnya Pendidikan Bagi Generasi. Allah melalui lisan RasulNya mewajibkan agar setiap muslim menuntut ilmu, dan pada hakikatnya orang yang menghentikan menuntut ilmu adalah orang yang telah mati secara pemikiran. Rasulullah Muhammad SAW sendiri senantiasa membaca Ayat-ayat Allah, mengajarkan Al Quran dan As Sunnah kepada para sahabat sepanjang hayat beliau. Hal ini juga diikuti oleh para sahabat sepanjang hayat beliau. Hal ini juga diikuti oleh para sahabat ridwanullah ‘alaihim mengajarkan kepada umat yang lain. Sehingga keberadaan guru ini adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan umat sepanjang masa dan dia mengemban misi yang amat mulia. Menjadi guru tentunya tidak sekadar sebagai pekerja, akan tetapi harus memiliki motivasi Islami untuk membina generasi agar lahir calon para pemimpin yang mengerti misi hidup dari Ilahi.

Kedua, Memahami Arah Tujuan Pendidikan Dalam Islam. Guru yang berkualitas harus memahami mau dibawa kemana generasi yang mereka didik tersebut. Dia harus memahami bahwa dia harus membentuk anak didiknya sesuai dengan arahan sang pencipta anak tersebut, yaitu beribadah kepada Allah (‘Aabudush Shaalihin) (QS Adz Dzaariyat [51] Ayat 56) dan pemimpin bumi (Kholifah fil Ardl) [QS Al Baqarah [2]: 30] agar tercipta kesejahteraan dan kemaslahatan bagi seluruh umat manusia di dunia. Anak didik bukan diarahkan oleh semaunya guru, sekehendak sekolah atau yayasan bahkan negara kapitalis, yang akhirnya menjadi penghamba pada materi, yang hanya memikirkan kesenangan materi / jasadi seperti yang terjadi sekarang di negeri yang menerapkan sistem kapitalisme. Sehingga output yang mereka hasilkan juga harus sesuai dengan kehendak Allah yaitu antara lain menjadi Anak Saleh [QS Al A’raf [7] Ayat 189]. Anak didik diarahkan agar menjadi penyenang dan penenang bagi kedua orangtuanya selamanya (Qurrata A’yun) serta menjadi pemimpin orang-orang bertakwa [QS Al Furqan [25] ayat 74].

Ketiga, Memiliki Kepribadian Islam. Sosok seorang guru yang mempunyai Andil besar dalam proses pendidikan haruslah mempunyai pribadi yang penuh pesona, agar guru menjadi model bagi anak didiknya. Kepribadian Islam adalah  sosok yang memiliki ‘Aqliyah Islamiyyah (pola pikir Islam) dan ‘Nafsiyah Islamiyyah (pola sikap Islam). Untuk membentuk pola pikir Islam yang kuat maka guru harus rajin mempelajari ilmu-ilmu keislaman agar banyak memiliki pemahaman Islam, ditambah lagi bahwa ini merupakan suatu kewajiban setiap muslim. Pemahaman Islamnya dijadikan acuan dalam berpikirnya. Dia tidak membiarkan dirinya berada dalam ketidaktahuan terhadap hukum Islam. Sedangkan seorang guru yang memiliki Nafsiyah Islamiyyah adalah guru yang mempunyai ketakutan pada Allah yang sangat tinggi, sehingga sangat berhati-hati di dalam bertindak agar diselamatkan dari kemurkaanNya. Di satu sisi dia sangat rindu pada keridhaan dan SurgaNya, karena dia tahu pasti bahwa tidak akan mampu menanggung sakitnya siksa neraka. Sehingga dia memiliki ketaatan total terhadap aturan Allah SWT. Dengan karakteristik yang demikian, seorang guru mampu menjadi magnet bagi anak didiknya. Sosok yang dibanggakan oleh para siswa dan pada akhirnya mereka akan mencontoh para guru. Sehingga akan lebih mudah membentuk anak berkepribadian Islam karena murid melihat sosok guru yang mempraktikkan Islam di tengah-tengah kehidupan, anak didik melihat langsung contoh, tidak sekadar teori yang diberikan.

Keempat, Senantiasa Profesional di Bidangnya. Dalam mencapai tujuan dan arah pendidikan dalam Islam maka dibutuhkan guru yang memiliki kecakapan dan keahlian di bidang pekerjaannya (mendidik anak) yang didapat dari proses pengkajian, pelatihan dan pengalaman yang tiada pernah henti. Oleh karena itu, guru haruslah bersungguh-sungguh, bergairah, mempunyai semangat yang tinggi menyiapkan, menguasai konten bidang yang akan disampaikan, memperdalamnya melalui diskusi dengan yang lain, menguasai metode yang tepat untuk menyampaikan kepada anak didik agar apa yang disampaikan itu bisa menjadi pemahaman yang kemudian mendorong mereka untuk mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari yang mereka jalani. Sehingga akan berpengaruh pada sikapnya, bukan sekadar pada pengetahuan dan keterampilan saja.

Kelima, Membentuk Kepribadian Islam pada Anak Didik. Menjadi guru adalah kemuliaan. Dia setiap hari bergelut dengan generasi, dan sekolah menjadi arena memberi ilmu bermanfaat, yang pahalanya akan mengalir hingga akhirat, dia mengemban amanah juga membentuk Syakhshiyyah Islamiyyah pada anak didiknya sesuai kehendak  Allah SWT. Ketika satu orang murid tercerahkan dengan Islam karena aktivitasnya, maka guru yang bersangkutan akan mendapatkan kebaikan lebih baik dari dunia dan seisinya. Jika yang mengikuti seruan kebaikannya itu semua murid di kelas yang mereka ajar, Subhanallah luar biasa pahala yang akan dipanennya kelak. Posisi guru sangatlah strategis karena secara intensif bertemu dengan generasi muda calon-calon pemimpin bangsa, bahkan dunia. Guru mempunyai andil yang besar agar dunia ini memiliki pemimpin sekelas Umar Bin Khatthab, Umar bin abdul Aziz yang menyejahterakan seluruh umat manusia dengan mengelola Negara, kekayaan alam, sumber daya manusianya dengan aturan Islam sehingga tidak berlebihan ketika dikatakan guru cukup mementukan apakah muridnya masuk ke surga atau neraka. [Amin Yusuf]

KEPAHLAWANAN SEORANG GURU

Guru sebagai Motivator
Guruku, Pahlawanku! Tak berlebihan rasanya jika ungkapan itu kita lekatkan pada sosok guru, siapa pun kapan pun dan dimana pun berada. Karena guru adalah sosok pribadi luhur dan mulia, melalui tangannya tercetak penerus masa depan yang bermutu, kuat, dan terdepan.

Tugas guru sangatlah berat karena seorang guru harus mampu membangun kepribadian anak didiknya, tentu ini membutuhkan waktu lama serta keahlian khusus karena jika tidak berhasil, maka anak didik akan menjadi liar dan destruktif, karena dalam pribadi mereka kosong dari nilai-nilai moral, etika, dan agama, seperti yang banyak terjadi pada para pelajar akhir-akhir ini.

Oleh karena beratnya tugas seorang guru, maka Islam menjadikan guru berada pada kedudukan yang istimewa, sebagaimana Sabda Nabi Muhammad SAW, “Sesungguhnya Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW dan para malaikatNya, seluruh makhluk di langit dan di bumi, sampai semut dan di liangnya dan juga ikan besar, semuanya bershalawat kepada orang-orang yang mengajarkan kebaikan pada manusia” (H.R. Imam Tirmidzi).

Terkait ilmu bermanfaat yang akan membawa guru tersebut pada derajat mulia, ada sebuah hadits Rasulullah SWA, “Apabila anak adam (Manusia) meninggal dunia, maka terputuslah semua (pahala) amal perbuatannya kecuali tiga macam perbuatan, yaitu amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang mendoakannya” (H.R. Imam Muslim).

Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya di antara amal kebaikan yang mendatangkan pahala setelah orang yang melakukannya meninggal dunia ialah ilmu yang disebarluaskannya, anak saleh yang ditinggalkannya, mushaf (kitab-kitab keagamaan) diwariskannya, masjid yang dibina, rumah yang dibina untuk penginapan orang yang sedang dalam perjalanan, sungai yang dialirkannya untuk kepentingan orang ramai, dan harta yang disedekahkanya” (H.R. Imam Ibnu Majah).

Subhanallah, betapa maha Pengasihnya Allah SWT yang menjadikan kedudukan Ilmu bermanfaat mampu memuliakan orang yang mengajarkan dan menyebarluaskannya. Seandainya seluruh guru di negeri ini memahami kemuliaan ini, tentu saja para guru akan berlomba-lomba dengan penuh kesungguhan memberikan ilmu yang terbaik bagi anak didiknya, berusaha mendidik para siswa menjadi sosok soleh dan cerdas penerus peradaban Islam yang agung dan mulia. [Amin Yusuf]

UNTUKMU WAHAI PARA GURU TERCINTA

Pelatihan OSIS
Sadarilah bahwa posisi guru sungguh menentukan nasib bangsa dan kebahagiaan dunia akhirat anak didik kita. Sehingga segeralah menempa diri dan berbenah, hilangkan kegusaran dan kegundahan yang menggelayut dalam diri dengan senantiasa berpegang teguh pada Islam. Hanya dengan Islam, problematika guru yang ada sekarang dan di masa mendatang bisa terjawab secara tuntas, seperti masalah kesejahteraan, Profesionalistas, Dilema Kurikulum, pemahaman keagamaan dan lain-lain.

Dalam Islam, komponen yang membentuk guru menjadi dambaan umat akan disiapkan dan dilakukan oleh Negara. Guru akan dibekali semua yang menunjang tugasnya. Negara akan membuat kurikulum berbasis akidah Islam yang bisa menghantarkan anak didik berkepribadian Islam, taat pada Allah SWT. Kurikulum tidak tiap tahun diganti karena dirumuskan dari Al Quran dan As Sunah. Anak didik tidak akan dibebani pelajaran yang tidak diperlukan dan tidak berkorelasi terhadap pembentukan kepribadian Islam. Pelajaran yang bertentangan dengan Islam pasti akan dihapus. Materinya pun disesuaikan dengan tahapan usianya. Kemudian guru akan diberi pelatihan yang intensif bagaimana metode pembelajaran yang bisa berpengaruh terhadap anak agar terdorong berbuat baik dengan ilmu yang mereka miliki. Dan pelatihan ini tentunya gratis dan didapatkan oleh semua guru baik di sekolah negeri maupun swasta, tanpa dibedakan karena Negara khilafah adalah penanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan yang berkarakter sesuai dengan Islam.

Khalifah akan menyediakan saran dan prasarana pendidikan gratis. Semua anak didik bebas biaya, guru mendapatkan kesejahteraan yang luar biasa. Pada masa khalifah Umar bin Khatthab, beliau memberi gaji guru sebesar 63,75 Gram Emas. Jika saat ini harga 1 gram emas Rp. 500.00,- berarti gaji guru pada saat itu setiap bulannya sebesar Rp. 31.875.000,- dan diikuti oleh para khalifah berikutnya.

Bagi guru, disediakan rumah di sekitar lingkungan sekolah secara gratis. Guru yang berprestasi dalam menulis buku akan diberi penghargaan dengan menimbang buku tersebut dan disepadankan dengan berat emas. Anak-anak guru mendapatkan jaminan kesehatan dan pendidikan yang bermutu secara gratis dari Negara.  Subhanallah, dalam sistem Islam untuk menjadi guru dambaan umat sangatlah mudah, karena Negara bertanggung jawab penuh terhadap pelaksanaan, tercapainya output, dan pembiayaan. Guru bisa berkonsentrasi mendidik anak didiknya, murid fokus mencari ilmu tanpa banyak gangguan.

Sistem ini akan tegak jika semua segenap elemen, termasuk guru berperan aktif dalam mendidik dan membina anak didiknya menjadi Agent of change (agen perubah) agar terbentuk kepribadian yang Islami. Jadi, guru akan mendapat imbalan terbaik di akhirat (pahala) dan dunia (gaji yang memadai). Wahai para guru, umat sedang menunggu kiprahmu untuk menjadi guru taat Syariat dambaan Umat. [Amin Yusuf]

KODE ETIK GURU INDONESIA


Pelatihan Guru Nasional
Dengan rahmat Tuhan Yang Maha Esa guru Indonesia menyadari bahwa jabatan guru adalah suatu profesi yang terhormat dan mulia. Guru mengabdikan diri dan berbakti untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia serta menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni dalam mewujudkan masyarakat yang maju, adil, makmur, dan beradab.

Guru Indonesia selalu tampil secara profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Guru Indonesia memiliki kehandalan yang tinggi sebagai sumber daya utama untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

Guru Indonesia adalah insan yang layak ditiru dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, khususnya oleh peserta didik, yang dalam melaksankan tugas berpegang teguh pada prinsip “ing ngarso sung tulodho, ing madya mangun karso, tut wuri handayani”. Dalam usaha mewujudkan prinsip-prinsip tersebut guru Indonesia ketika menjalankan tugas-tugas profesionalnya dituntut memiliki kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional  sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi.

Guru Indonesia bertanggung jawab mengantarkan siswanya untuk mencapai kedewasaan sebagai calon pemimpin bangsa pada semua bidang kehidupan. Untuk itu, pihak-pihak yang berkepentingan selayaknya tidak mengabaikan peranan guru dan profesinya, agar bangsa dan negara dapat tumbuh sejajar dengan dengan bangsa lain di negara maju, baik pada masa sekarang maupun masa yang akan datang. Kondisi seperti itu bisa mengisyaratkan bahwa guru dan profesinya merupakan komponen kehidupan yang dibutuhkan oleh bangsa dan negara ini sepanjang zaman. Hanya dengan pelaksanaan tugas guru secara profesional hal itu dapat diwujudkan eksitensi bangsa dan negara yang bermakna, terhormat dan dihormati dalam pergaulan antar bangsa-bangsa di dunia ini.

Peranan guru semakin penting dalam era global. Hanya melalui bimbingan guru yang profesional, setiap siswa dapat menjadi sumber daya manusia yang berkualitas, kompetitif dan produktif sebagai aset nasional dalam menghadapi persaingan yang makin ketat dan berat sekarang dan dimasa datang.

Dalam melaksanakan tugas profesinya guru Indonesia menyadari sepenuhnya bahwa perlu ditetapkan Kode Etik Guru Indonesia sebagai pedoman bersikap dan berperilaku yang mengejewantah dalam bentuk nilai-nilai moral dan etika dalam jabatan guru sebagai pendidik putera-puteri bangsa. [Amin Yusuf]